Ada aroma khas garam, air pasang, dan deburan semangat yang menyeruak saat saya melangkahkan kaki ke Kampung Apung—sebuah pemukiman padat di mana derak jemari warga yang sibuk mengupas kerang menjadi irama harian yang tak pernah berhenti. Di tengah perjuangan ekonomi yang intens, ada satu kenyataan pahit yang sering kali luput dari pandangan kita: betapa ketimpangan sosial dan terbatasnya akses pendidikan masih menjadi tembok tebal yang mengurung mimpi anak-anak serta warga di sana.
Melihat realitas tersebut, hati saya selalu berdesir. Pendidikan mungkin tidak serta-merta menjamin kebahagiaan hidup seseorang. Namun, saya percaya penuh bahwa pendidikan memegang peranan yang sangat vital: ia memberikan seseorang lebih banyak pilihan dalam hidupnya. Tanpa akses belajar, pilihan itu menjadi amat sempit, bahkan seolah tertutup rapat.
Atas dasar rasa empati dan tekad untuk meruntuhkan tembok ketimpangan itulah, melalui Andien Foundation, Alhamdulillah kami resmi meresmikan titik kelima Sekolah Anak Percaya yang berdiri hangat di tengah-tengah komunitas Kampung Apung.
Kehadiran Sekolah Anak Percaya di titik kelima ini bukan sekadar seremoni serah-terima bangunan, melainkan sebuah ikhtiar nyata untuk merajut kembali harapan warga yang sempat terputus dari bangku sekolah. Lewat wadah inklusif ini, kami menyediakan jalur pendidikan kesetaraan secara gratis:
Paket A: Setara dengan jenjang Sekolah Dasar (SD)
Paket B: Setara dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Paket C: Setara dengan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)
Yang menjadi ruh dari Sekolah Anak Percaya adalah komitmen pendampingannya, karena di Andien Foundation tidak hanya menyediakan ruang kelas dan pengajar tanpa memungut biaya sepeser pun, tetapi juga mendampingi para peserta didik secara intensif hingga mereka benar-benar lulus dan memegang ijazah resmi di tangan mereka. Ijazah ini kelak menjadi ‘kunci’ penting agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melangkah lebih jauh di masyarakat.
Setiap kali saya berdiri di depan kelas atau menyapa adik-adik di Kampung Apung, saya selalu teringat pada lagu-lagu yang saya nyanyikan di panggung. Proyek Sekolah Anak Percaya ini menjadi pengingat yang sangat personal bagi perjalanan karier saya: bahwa musik dapat berlayar melampaui ruang dengar.
Sebagian dari royalti dan apresiasi yang saya terima dari para pendengar setia musik saya dialokasikan langsung untuk menyokong operasional, pengadaan materi belajar, serta keberlanjutan sekolah ini. Artinya, di balik setiap nada yang didengar oleh teman-teman, ada doa dan kontribusi kolektif yang mengalir untuk merawat masa depan warga Kampung Apung.
Rasa haru tak terhingga membuncah saat melihat tawa anak-anak dan binar kebahagiaan para warga di hari peresmian tersebut. Momen hangat yang sarat makna ini juga sempat saya bagikan lewat akun Instagram resmi @andien:
“Alhamdulillah, titik ke-5 Sekolah Anak Percaya diresmikan! Semoga apa yang kami coba bagi di Kampung Apung ini menjadi berkah dan manfaat untuk semua warga di sini. Terimakasih yaa temen-temen, ini nggak lepas berkat doa dari kalian semua.”
View this post on Instagram
Peresmian titik kelima ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan satu pilar penting dalam misi panjang kami memperluas akses pendidikan di Indonesia. Semoga Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung menjadi ruang yang aman, hangat, dan menguatkan bagi siapa saja untuk kembali percaya pada potensi diri dan berani bermimpi lebih tinggi.
Andien Aisyah Foundation is dedicated to handling donations for the benefit of sustainable human and environmental development with integrity










