Sejumlah anak duduk berkelompok di atas alas berwarna biru. Sebagian lainnya belajar di depan meja-meja kecil bersama orang dewasa yang mengikuti pelajaran. Di antara tiang penyangga berwarna kuning dan dinding hijau toska, kegiatan belajar mengajar berlangsung di bawah salah satu rumah apung di Kampung Apung, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.
Ruang di bawah rumah apung itu disulap menjadi tempat belajar bagi warga. Anak-anak hingga orang dewasa berkumpul untuk mengikuti pembelajaran yang dibimbing para pengajar. Tempat belajar tersebut merupakan bagian dari Sekolah Anak Percaya, inisiatif pendidikan gratis yang digagas penyanyi Andien Aisyah. Sekolah ini hadir untuk mendekatkan akses pendidikan kepada masyarakat yang menghadapi berbagai keterbatasan. Di Kampung Apung, warga bisa mengikuti pembelajaran untuk mengejar pendidikan yang sebelumnya terputus.
Berbeda dari empat lokasi sebelumnya yang berada di kawasan kampung pemulung, Sekolah Anak Percaya kali ini hadir di tengah lingkungan kampung nelayan. “Ini adalah sekolah kelima. Nah, empat yang lainnya itu adanya di kampung pemulung karena memang niat awalnya banget itu iktikadku memang tadinya penginnya di kampung pemulung gitu,” ungkap Andien saat ditemui di lokasi Sekolah Anak Percaya, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (7/11/2026). “Tapi begitu waktu itu assessment ke sini dan ngerasa kayak di sini juga membutuhkan sekolah, terus ngobrol sama beberapa orang di sini dan ternyata mereka bilang butuh banget nih gitu, karena banyak sekali orang-orang yang putus sekolah,” lanjutnya.
Belajar Tanpa Harus Meninggalkan Pekerjaan Bagi warga Kampung Apung, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tidak selalu mudah diperoleh. Sebagian masyarakat sudah terbiasa bekerja sejak kecil. Selain itu, jarak menuju sekolah dan biaya transportasi menjadi kendala untuk mengakses pendidikan.
Karena itu, Sekolah Anak Percaya tidak menyelenggarakan kegiatan belajar setiap hari seperti sekolah pada umumnya. Pembelajaran berlangsung setiap Sabtu agar tidak berbenturan dengan aktivitas pekerjaan warga. Andien menjelaskan, kesempatan memperoleh pendidikan perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat untuk mencari nafkah. “Karena bagaimanapun kan ketika kita mau menawarkan sebuah pendidikan gitu ke proses pendidikan ke mereka, dari merekanya sendiri pasti akan, bisa dibilang tertarik dan punya keinginan yang lebih, ketika itu bisa berjalan sejalan dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari untuk supaya dapurnya ngebul, supaya untuk mengisi perut mereka gitu,” kata dia.

Peserta didik di sekolah tersebut berasal dari berbagai kelompok usia. Tidak hanya anak-anak, sejumlah orang dewasa juga mengikuti pembelajaran untuk mengejar ijazah Paket A setara sekolah dasar (SD), Paket B setara sekolah menengah pertama (SMP), hingga Paket C setara sekolah menengah atas (SMA).
Menurut Andien, Sekolah Anak Percaya hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan dasar masyarakat yang belum memperoleh kesempatan tersebut. “Dan memang sebenarnya kan haknya setiap warga negara untuk bisa mendapatkan pendidikan, betul ya gitu. Dan ketika itu memang belum terpenuhi, ya makanya hadirlah Sekolah Anak Percaya untuk bisa memenuhi kebutuhan pendidikan dasar mereka,” jelas dia.
Berawal dari Kunjungan ke Kampung Pemulung Sebelum mendirikan Sekolah Anak Percaya, Andien mengaku cukup sering mengunjungi kawasan kampung pemulung. Dari berbagai kunjungan tersebut, dia melihat persoalan pendidikan yang dialami masyarakat. Menurut dia, sebagian warga sudah bekerja sejak kecil sehingga tidak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan. Keinginan untuk kembali bersekolah biasanya baru muncul ketika mereka beranjak dewasa. “Kenapa? Karena biasanya dari kecil ya memang sudah bekerja gitu. Dan biasanya ada kayak penyesalan-penyesalan ingin sekolah lagi ya biasanya ada di waktu-waktu mereka SMA atau di usia-usia kuliah gitu,” ungkapnya.
Andien juga melihat bahwa persoalan akses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sekolah gratis. Masyarakat masih harus memikirkan kebutuhan lain, seperti ongkos transportasi dan seragam. Di sisi lain, mereka tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut mendorong Andien dan tim menghadirkan sekolah langsung di lingkungan tempat tinggal masyarakat. “Jadi ya udah, akhirnya kita sepakat untuk membuat sekolahnya dalam bentuk jemput bola seperti ini. Jadi sekolahnya yang kita selenggarakan di kampungnya gitu,” ucap Andien.
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi Sekolah Anak Percaya. Nama sekolah itu diambil dari salah satu lagu milik Andien yang berjudul “Percaya”. “Aku tuh punya lagu judulnya Percaya gitu. Lagunya sendiri tentang bagaimana ketika seseorang itu patah semangat, putus asa, tapi ya mau enggak mau dia tetap harus melangkah aja karena dia percaya ada sesuatu yang baik yang menunggu di depan gitu,” tutur dia.
Pendidikan untuk Membuka Kesempatan Baru Di Kampung Apung, jumlah peserta didik Sekolah Anak Percaya saat ini diperkirakan mencapai sekitar 40 orang. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan harapan bisa menyelesaikan pendidikan yang sebelumnya terputus. Bagi Andien, kesempatan memperoleh ijazah dapat membuka peluang kerja yang lebih luas bagi para lulusan.
Dia menyebut sejumlah lulusan Sekolah Anak Percaya kini bekerja di perusahaan telekomunikasi, bank, serta profesi lain seperti petugas keamanan dan kasir. “Jadi ada beberapa yang kerja di perusahaan telko, atau berhasil menjadi satpam, atau berhasil kerja di bank, terus menjadi kasir, itu juga kayak sesuatu yang ya butuh skill-lah gitu ya,” ucap Andien.
Menurut Andien, kesempatan tersebut menjadi berarti karena sebagian peserta didik sebelumnya bahkan merasa kesulitan ketika diminta menceritakan cita-cita mereka. Membayangkan pekerjaan atau masa depan di luar lingkungan tempat tinggalnya bukan sesuatu yang mudah bagi sebagian warga. “Kayak untuk bicara tentang cita-cita tuh adalah sesuatu yang kayaknya terlalu jauh gitu buat mereka karena mereka seperti tidak berani untuk bercita-cita gitu,” ungkap dia.
“Karena mereka juga sudah lihat sekelilingnya kayak ya mungkin dari ibunya, kakaknya, atau saudaranya, atau tetangganya seperti itu gitu,” lanjut Andien. Ke depan, Andien berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam pengembangan Sekolah Anak Percaya. Dia membuka peluang untuk mendirikan lokasi keenam dengan dukungan relawan, donatur, maupun pihak yang bersedia menyediakan tempat belajar.
Andien menyadari perlu keterlibatan lebih banyak pihak, termasuk pemerintah, untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat. Dia berharap kerja sama tersebut dapat mendukung penyediaan fasilitas dan kebutuhan pendidikan. “Ini pasti juga baru gerakan-gerakan yang kecil dan sederhana gitu, tapi kalau semakin banyak orang yang dan mungkin instansi yang mau ikutan, aku yakin akan semakin cepat juga kita bisa mengentaskan ketidakmerataannya pendidikan ini gitu,” tegas dia.
Andien Aisyah Foundation is dedicated to handling donations for the benefit of sustainable human and environmental development with integrity










