Pameran Warna-Warna Vol. II kembali digelar di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan dengan menghadirkan karya-karya para seniman disabilitas. Salah satu penyandang disabilitas, Uda Faisal, menggambarkan bagaimana proses ia berpartisipasi pada pameran ini melalui lukisan diri dan karakter Joker.
Joker sendiri merupakan karakter antagonis yang sangat ikonik sebagai simbol ketidakstabilan mental. “Saya punya ide untuk menggambar diri saya sendiri, setengah sebagai Joker, setengah sebagai saya sendiri,” ungkap Faisal di Jakarta, 14 Agustus 2024.
Menurut Uda Faisal, penyandang disabilitas memiliki gemuruh pada mental lantaran selama ini masih mengalami diskriminasi, bahkan tidak dianggap ada.
“Saya pikir ini juga salah satunya isu disabilitas atau lebih tepatnya disabilitas mental. Buat saya sendiri sebagai pengguna kursi roda, juga mungkin siapa pun, mental kita juga bisa mengalami itu semua.”
Namun, pada karya ini, ia berkolaborasi dengan kurator terkemuka, seperti Agung Hujatnikajennong, mendapatkan beragam masukan. Oleh para pelukis senior, ia mendapatkan saran untuk membuat dua lukisan, yakni lukisan dirinya di atas kursi roda bersama dan sosok yang sama dengan wajah joker.
“Pak Tarko lebih luas lagi idenya. Tidak harus setengah, jadi dibuat saja dua lukisan dengan joker satu. Saya sebagai joker dan saya sebagai diri sendiri menjadi cerminan,” bebernya. Sehingga, karya tersebut dapat diartikan menjadi Faisal yang mengalami diskriminasi, diremehkan, dan dianggap tidak ada.
“Saya menangkap kursi roda di sini bahwa isu disabilitas harus tetap dikampanyekan di karya-karya pribadi saya,” tambahnya. Selain itu, ia menilai karakter Joker tersebut memiliki dendam untuk membawanya lebih mandiri.
“Joker sendiri sebenarnya sebagai orang yang mungkin bisa dibilang dendam. Tapi dendam di sini tidak dalam arti negatif melainkan arti yang positif. Bagaimana saya bisa mandiri secara utuh lewat karya-karya ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Faisal mengungkapkan bahwa kolaborasi yang dilakukannya dalam mempersiapkan pameran ini turut membentuk mentalnya dalam berinteraksi.
Menariknya, pembuatan karya tersebut dilakukan kurang dari satu bulan. Bahkan, ia sempat menginap di studio Open Arms untuk menyelesaikan lukisan hingga subuh. Meski begitu, ia tak serta merta melukis, melainkan tetap berpegang teguh pada konsep.
“Kita buat sebagus mungkin dengan konsep yang Pak Anto punya dan tetap mengampanyekan isu disabilitas bahwa masih banyak diskriminasi, diremehkan atau dianggap tidak ada,” tuturnya.
“Saya berharap pameran ini dan pameran-pameran berikutnya tidak hanya mengeksploitasi karya disabilitas, tapi bagaimana prosesnya juga lebih mengedepankan teman-teman disabilitas,” pungkasnya.

Disway adalah perusahaan media Indonesia yang menaungi jaringan media cetak, daring, televisi dan radio, didirikan oleh Dahlan Iskan.